PENGALAMAN SINGKAT TAPI BERKESAN DI PANTI WREDA
1. BAGIAN "SEE" (MELIHAT)
Hari itu aku bangun pagi banget, rasanya campur aduk pas lagi siap-siap buat pergi ke panti wreda. Aku mikir, apa ya yang bakal aku lakuin di sana? Aku takut kalau aku ga bisa bikin Oma-oma seneng. Tapi pas berangkat dan nyampe di lokasi, hati aku langsung agak tenang karena bertemu dengan teman sebaya saya. Tempatnya lumayan besar, ada pohon-pohon yang bikin suasana sejuk. Begitu sampai dan saya turun dari mobil saya, angin sepoi-sepoi langsung ngebuat aku lebih rileks.
Pas masuk ke dalam panti, aku langsung ngerasa diterima banget karena Oma-oma yang lagi duduk di teras nyambut kami pake senyum lebar. Salah satu suster disana menyambut kami, suaranya lembut gitu. Suster-suster juga ramah, mereka pake baju putih dan senyumnya hangat membuat saya dan teman-teman nyaman. Temen-temen aku langsung bikin suasana rame, ada yang bercanda, ada yang salaman sama Oma-oma. Aku ikut-ikutan, tapi masih malu-malu dikit. Hehe.
Kami ngobrol bentar sama suster disana, dia jelasin aturan di panti. Mereka menjelaskan aturan kayak jangan ribut terlalu keras, hormati Oma-oma, dan jangan lupa cuci tangan. Aku dengerin sambil mengamati agar bisa menghormati Oma yang ada disana. Setelah itu kami diarahkan ke aula yang lumayan luas. Dindingnya ada lukisan lukisan yang bagus dan kursi kursi yang sudah disediakan oleh pengurus di panti wreda. Acara dimulai dengan nyanyi lagu rohani Kristen bareng dipimpin oleh kami. Suara Oma di campur sama suara temen-temen bikin ruangan menjadi penuh semangat dan hangat. Aku ikut nyanyi, meskipun suara aku ga terlalu kedengeran karena ga berani terlalu besar suaranya.
Nah disini peran aku dimulai, Aku kebagian tugas memimpin doa pembuka. Jujur, aku lumayan nervous, aku mikir, gimana kalau aku salah ucap? Tapi aku beraniin diri, berdiri di depan, dan mulai doa. "Tuhan Yesus, kami minta berkat-Mu buat acara hari ini...", semua orang diam dengerin, dan pas selesai, ada yang bilang amin bareng rasanya lega banget.
Setelah doa, suasananya makin seru pas kami main game oper bola. Jadi, bolanya yang warnanya merah itu dioper dari tangan ke tangan sambil ada musik dari speaker. Musiknya lagu-lagu random yang telah dipilih oleh kami saat rapat persiapan. Pas musik berhenti, Oma yang pegang bola terakhir akan ditanyai dengan pertanyaan dari kartu yang sudah kami siapkan. Ada Oma yang cerita pas dia kecil main di sawah, ada yang bilang suka bernyanyi dan lain-lain. Aku liat mereka sangat ramah dan dengan senang hati menyeritakan. Game itu bikin kami deket sama Oma-oma, bahkan ada yang bernyanyi lagu Chinese.
Aku ikut main juga, pas bola sampe ke aku, aku oper cepet biar ga kena tanya (walaupun yang menyelenggarakan gaakan di tanya), Tapi Oma-oma antusias banget, mereka cerita panjang lebar. Ada yang bilang masa mudanya bahagia dengan permainan-permainan tradisional. Suasananya berasa seperti lagi saling sharing. Kami juga bagi-bagi makanan kecil, seperti kue dan buah. Tentunya Oma dengan baik hati mau menerima dan memakan makanan yang kamu berikan.
Cuma sayangnya, ada yang bikin hati aku ga enak. Pas acara lagi asik-asiknya, sekitar jam 11 siang, aku dan beberapa temen harus pamit duluan. Kami ada jadwal tanding basket mewakili sekolah. Rasanya tanggung banget ninggalin Oma-oma yang lagi ditengah acara. Aku liat oma masih berbahagia tapi akunya juga harus menuntaskan kegiatan bertanding basket.
2. JUDGE (MENILAI)
"Behold, I am the handmaid of the Lord, let it be to me according to your word." (Luke 1:38)
Dari pengalaman yang singkat itu, aku coba nyari nilai-nilai apa yang diajarin oleh Bunda Maria dan aku dapatkan pada saat ke panti Wreda. Dan saya mendapat pelajaran untuk menjadi rendah hati dan taat kepada Allah seperti ayat diatas. Ayat itu mengingatkan aku kalau kita harus nerima kehendak Tuhan apa adanya.
Pertama, waktu aku maju buat pimpin doa, aku belajar melayani dengan tulus. Bukan buat pamer kalau aku anak suci atau jago doa, tapi beneran mau serahin acara ke Tuhan. Aku sadar kalau melayani ga harus hal besar-besar, sekedar memimpin doa dengan hati tulus juga udah bentuk pelayanan yang bagus. Itu kunci buat jadi rendah hati kayak Bunda Maria, yang selalu siap melayani tanpa banyak omong.
Kedua, awalnya aku merasa bersalah banget karena harus ninggalin panti di tengah acara buat basket. Aku mikir, gimana ya kalo aku tinggalin panti di tengah acara? Tapi lama-lama aku pikir, mungkin itu kehendak Tuhan buat aku hari itu untuk melayani Oma-oma sebentar dan mendapatkan pengalaman, terus lanjutin tanggung jawab aku sebagai pemain di lapangan basket. Aku ngerasa Tuhan mau memberikan pembelajaran untukku bahwa dalam waktu sempit ada banyak yang bisa dipelajari jika digunakan secara efektif. Oma-oma di panti ga marah saat aku dan teman-teman harus pergi bertanding basket, aku jadi makin sadar, kualitas lebih penting daripada lama waktunya. Seperti Bunda Maria yang mempercayai Tuhan secara penuh.
Aku juga ingin berefleksi diri, di panti itu aku liat Oma-oma yang mungkin kesepian, tapi senyum mereka pas kami datang itu tulus. Mungkin Tuhan ingin mengajariku untuk lebih peduli dengan orang sekitar. Pengalaman ini memiliki makna, kalau hidup itu penuh pilihan, dan kita harus bijak milih mana yang prioritas. Aku belajar kalau ga semua bisa sempurna, yang penting adalah mencoba sebisa mungkin tanpa menyerah.
3. BAGIAN "ACT" (BERTINDAK)
Setelah kegiatan ini, aku akan menjalankan misi mengubah sikap aku ke depannya. Aku ga mau pengalaman ini cuma lewat dan terlewatkan kesempatannya.
Pertama, aku mau lebih hargai waktu. Karena aku sadar betul kemarin waktu yang didapat mepet, tapi ku sadar kalau tiap detik dilakukan secara efektif itu pasti berharga. Aku janji buat fully present dan fokus menjadi diri yang lebih baik, lebih sering membantu sesama meskipun waktunya ga banyak. Misalnya sesimpel mendengarkan dengan baik masalah teman yang sedang bercerita, lalu memberi pendapatku.
Kedua, aku pengen ingin menjadi orang yang lebih perhatian ke orang-orang. Seperti kakek nenek, teman, saudara, dan lainnya. Aku mau dengerin cerita mereka, dan memberikan uluran tanganku untuk mereka. Mungkin sekedar nanya "Kamu lagi kenapa?" Akan berharga bagi yang memang sedang memendam keluh kesah. Atau membantu mereka dengan mengobrol dengan mereka akan menghilangkan rasa kesepian mereka. Mereka butuh perhatian, ga cuma uang atau makanan.
Ketiga, soal keberanian. Aku memiliki rencana buat bertindak lebih berani memimpin doa di kelas atau acara-acara lain. Aku ga mau malu-malu lagi kalau diminta melayani temen-temen. Misalnya, di sekolah pas ada doa pagi, aku akan dengan senang hati buat pimpin.
Selain itu, aku mau coba menjadi lebih baik lagi kedepannya. Mungkin mengajak temen-temen lain untuk berkembang sama-sama. Aku juga pengen belajar lebih banyak ajaran Tuhan Yesus dan Bunda Maria, baca Alkitab lebih sering, agar bisa menerapkan ajaran-ajaran Tuhan. Pokoknya, pengalaman ini bikin aku pengen jadi orang yang lebih baik, meskipun masih banyak kekurangan, Aku harap bisa lakuin semua ini pelan-pelan tapi pasti




wow
BalasHapus