Jejak Pra ASAJ:
Perjalanan Menempa Diri
Catatan reflektif seorang siswa kelas 9 SMP
Sebelum terjun langsung ke kegiatan ASAJ (Asesmen Sumatif Akhir Jenjang), setiap siswa kelas 9 diwajibkan mengikuti tahap yang disebut Pra ASAJ. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas karena Pra ASAJ dirancang sebagai simulasi ujian sesungguhnya yang bertujuan mempersiapkan mental, kemampuan manajemen waktu, dan kesiapan akademis seluruh siswa sebelum menghadapi ujian besar yang sebenarnya.
Tujuan utama dari Pra ASAJ adalah memberikan gambaran nyata tentang suasana, mekanisme, dan tekanan yang akan dirasakan saat ASAJ berlangsung. Dengan mengikuti simulasi ini, siswa diharapkan dapat mengidentifikasi kelemahan mereka, membenahi strategi belajar, dan membangun kepercayaan diri agar tidak kaget ketika ujian sesungguhnya tiba.
"Jujur, waktu pertama mendengar kata Pra ASAJ, perasaanku campur aduk. Deg degan jelas ada, tapi ada juga rasa penasaran, sejauh mana sih kemampuanku saat ini?"
Perasaan gugup itu wajar dan rasanya hampir semua teman sekelasku merasakannya. Namun di balik kecemasan itu, ada semangat tersendiri karena ini adalah kesempatan untuk benar benar mengukur diri sebelum terlambat. Seperti latihan tanding sebelum kompetisi resmi, Pra ASAJ adalah arena yang tepat untuk jatuh dan belajar, tanpa konsekuensi besar.
Pra ASAJ kali ini dilaksanakan menggunakan platform aplikasi Sokrates yaitu sebuah aplikasi ujian berbasis digital yang cukup serius dalam hal keamanan. Yang membuat Sokrates berbeda dari ujian online biasa adalah fitur lockdown nya. Selama ujian berlangsung, pengguna tidak bisa keluar dari tab ujian sembarangan. Aplikasi ini benar benar mengunci layar dalam mode ujian penuh, sehingga godaan untuk membuka tab lain atau mencari jawaban di internet otomatis tertutup.
Total mata pelajaran yang diujikan dalam Pra ASAJ ini mencapai 12 mata pelajaran, mulai dari Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS, hingga mata pelajaran lainnya yang menjadi bagian dari kurikulum kelas 9. Setiap sesi ujian berlangsung dalam durasi tertentu dan harus diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditentukan sekolah.
Yang menarik dan sekaligus menjadi tantangan tersendiri adalah pilihan device yang kugunakan yaitu handphone. Bukan laptop dan bukan komputer. Dengan layar yang jauh lebih kecil, mengerjakan soal soal panjang terutama soal uraian dan soal Matematika yang penuh rumus terasa cukup menantang. Terkadang harus zoom in untuk membaca soal dengan jelas, atau scroll panjang hanya untuk melihat pilihan jawaban secara utuh.
Salah satu momen yang cukup mendebarkan adalah ketika layar handphone tiba tiba meredup otomatis karena pengaturan brightness. Sekilas kupikir aplikasinya error, tapi ternyata hanya masalah pengaturan layar biasa. Legaaa!
Selain itu, koneksi internet sesekali tidak stabil yang sempat membuat jantung berdegup kencang karena takut soal tidak tersimpan. Namun setelah memastikan jawaban tersimpan dengan baik dan sinyal kembali normal, kegiatan pun berjalan lancar hingga selesai. Pengalaman ini secara tidak langsung mengajarkanku untuk lebih cermat dalam mempersiapkan kondisi teknis sebelum ujian dimulai.
Dari sekian banyak momen yang terjadi selama Pra ASAJ, ada beberapa yang benar benar membekas di ingatan. Yang pertama dan paling mengesankan adalah perasaan masuk ke dalam zona ketika mengerjakan salah satu mata pelajaran yang kusuka. Tiba tiba waktu terasa cepat sekali karena soal demi soal seperti mengalir begitu saja. Itu adalah momen di mana aku sadar bahwa belajar selama ini tidak sia sia.
Momen paling sulit datang ketika memasuki sesi mata pelajaran yang materinya terasa paling padat. Di tengah sesi itu, ada beberapa soal yang jawabannya benar benar menggantung di ujung pikiran karena aku tahu konsepnya, tapi kata katanya tidak mau keluar. Perasaan itu sangat frustrasi, tapi juga menjadi pengingat kuat bahwa pemahaman konsep harus lebih diperdalam, bukan hanya menghafal.
Hal yang paling tidak terduga? Ternyata mengerjakan ujian di handphone membuatku lebih fokus daripada yang kubayangkan. Tanpa notifikasi karena Sokrates mengunci layar, tidak ada distraksi sama sekali dan justru lebih kondusif!
Satu hal unik lain yang tidak kuduga adalah betapa cepatnya waktu 12 mata pelajaran itu terasa berlalu secara keseluruhan. Di hari pertama sempat khawatir tidak kuat, tapi begitu hari terakhir selesai, yang terasa justru sebuah kebanggaan kecil karena aku sudah melewatinya. Pengalaman ini juga mempererat hubungan dengan teman teman sekelas, karena kami saling berbagi cerita dan perasaan setelah setiap sesi selesai.
Pra ASAJ bukan hanya ujian akademis karena ia juga mengajarkan hal hal yang tidak tertulis di buku teks. Dari sisi akademis, aku menyadari ada beberapa konsep yang selama ini kupikir sudah kupahami, ternyata masih perlu pendalaman lebih lanjut. Misalnya, beberapa soal IPA yang menuntut pemahaman proses, bukan sekadar hafalan fakta. Itu membuatku sadar bahwa cara belajarku perlu sedikit digeser dari menghafal menjadi memahami.
Dari sisi teknologi, ini pertama kalinya aku benar benar menggunakan aplikasi Sokrates secara penuh untuk 12 mata pelajaran sekaligus. Aku belajar bahwa aplikasi pengujian digital semacam ini dirancang bukan untuk menyulitkan, melainkan untuk menciptakan kondisi ujian yang adil dan terkontrol. Fitur lockdown yang awalnya terasa menakutkan, justru akhirnya terasa seperti pelindung fokus yang tidak terduga manfaatnya.
Yang paling berharga adalah pelajaran tentang manajemen diri. Bagaimana mengatur napas ketika panik, bagaimana mendistribusikan waktu antar soal, dan bagaimana tetap tenang meski ada kendala teknis di tengah jalan. Semua itu adalah keterampilan nyata yang tidak bisa dipelajari hanya dari teori, dan Pra ASAJ memberikannya langsung sebagai pengalaman pertama tangan.
Setelah semua sesi Pra ASAJ selesai, saatnya bercermin jujur tentang apa yang sudah baik dan apa yang perlu diperbaiki.
Mampu menjaga fokus dan ketenangan sepanjang ujian meski menggunakan handphone. Konsisten menyelesaikan semua sesi tanpa menyerah di tengah jalan, dan cukup baik dalam mengatur waktu per soal agar tidak kehabisan waktu.
Masih sering terlalu lama di soal yang berat sehingga soal soal yang sebenarnya bisa dikerjakan di akhir menjadi terburu buru. Beberapa konsep materi juga belum benar benar dikuasai secara mendalam.
Ke depan, aku perlu lebih disiplin dalam belajar secara konsisten dan tidak hanya intensif di menit menit terakhir. Selain itu, perlu melatih keberanian untuk melewati soal sulit terlebih dahulu dan kembali ke sana nanti, daripada terpaku dan membuang waktu. Yang terpenting, perlu mengubah pola belajar dari sekadar menghafal menjadi benar benar memahami konsep agar lebih siap menghadapi ASAJ yang sesungguhnya.
Secara keseluruhan, Pra ASAJ adalah pengalaman yang sangat berharga. Meski melelahkan, pengalaman ini memberikan gambaran nyata tentang apa yang menanti di ASAJ, dan itu jauh lebih baik daripada tidak tahu sama sekali. Aku pulang dari Pra ASAJ bukan hanya dengan nilai, tapi dengan sebuah peta berupa peta kekuatan dan kelemahan diri yang kini bisa menjadi panduan untuk belajar lebih baik ke depannya.
Komentar
Posting Komentar