Kamis, 27 November 2025

Recount text




 1. SEE

Man, I woke up that morning with my stomach in knots. The whole way to the Panti Wreda, my brain was just spinning, thinking, "What am i gonna do there? What if they don't like me?" I kept thinking about it until I finally arrived at the panti


I arrived and saw my friends, and I instantly felt a bit better. The place was huge and had a bunch of trees, so of course the air felt dope and cool. Stepping out of the car, that breeze just hit me, and I was impressed by how cool the panti is.


Walking inside was wild. The Omas were just chilling, and they greeted us with sweet smiles. This one nurse came up to us; she also greeted us. All the nurses were just so friendly in their uniforms. Their positive vibes totally made us feel welcomed. My friends jumped right in, shaking hands and greeted the Omas. I joined, but I’ll be real, I was still kinda shy, hehe.


We got the rundown from the nurse: "Don't be too loud, respect the Omas, and for heaven's sake, wash your hands." I made sure to listen up so I didn't mess up.


Then we went into some big auditorium. It had these nice paintings and chairs all set up. We started things off by singing worship songs. Hearing the Omas singing just made the whole room feel warm and alive. I sang along, but I kept my voice down because I didn't wanna be the one person singing too loud, haha.


Then came my part: I had to lead the opening prayer. My heart was basically doing drum solos in my chest. I was thinking, what if I do it wrong? But I simply took a deep breath, got up front, and started praying. Everyone got so quiet, and when they all said "Amen" at the end, I felt this huge wave of relief.


After that, things got way more fun. We played this game where we passed a red ball around with music playing. We used a random playlist from one of our phones. When the music stopped, whichever Oma was holding the ball had to answer a question from our cards. One Oma told us about playing traditional games; another said she loves singing. They were so sweet and happy to share! One Oma even sang a Chinese song for us.


I played too, but when the ball came to me, I basically yeeted it to the next person so I wouldn't get picked (even though the committee was safe anyway, lol). The Omas were the real stars, though. They'd tell these long, amazing stories about their childhood games. It didn't feel like a formal event anymore, just like we were all hanging out and sharing stories. We handed out snacks like cakes and fruit, and the Omas were so kind, happily taking whatever we gave them.


But yeah, one thing kinda sucked. Around 11, right when things were getting super fun, a few of us had to dip out early. We had a basketball match for school. It felt so weird and wrong to just leave the Omas like that. Man, I felt guilty bouncing for my other commitment.


2. JUDGE

The whole thing got me thinking about that line from the Bible it's like "Behold, I am the handmaid of the Lord; let it be to me according to your word." (Luke 1:38). It's about being humble and always going with God's plan, like Mother Mary did.


First, leading that prayer taught me that serving isn't about being showing off. It's about doing it from the heart. I realized you don't need to do some grand gesture. Just leading a simple prayer with pure heart is enough. That’s the humble vibe I’m talking about just like Mother Mary, who was always down to serve without any drama.


Second, I felt mad guilty about leaving early for basketball. I was kinda feel excited for the match. But then I thought, maybe this was just the plan all along. Maybe God just wanted me there for a little bit to learn something and share some joy, and then go handle my business on the court as an athlete. It taught me that even a short amount of time can matter if you make it count. The Omas are fine when we left, which showed me it's about the quality of the time, not the quantity. It’s all about trusting, just like Mother Mary trust.


Looking at myself now, I realize I saw these Omas who might be lonely sometimes, but their smiles were so genuine when we showed up. Maybe God is trying to open my eyes more to the people around me. This whole experience showed me that life is full of choices, and you gotta know your priorities. Nothing's ever gonna be perfect, you just gotta do your best.


3. ACT

Okay, so after all that, I don't wanna just forget about it. I actually wanna change some things.


First, I'm gonna try to be better and not rush through things. Even though I was in a hurry that day, I saw how making every second count actually matters. So of course i'll try to really focus and be there for people, even if it's just for a minute. Like, actually listening when a friend is venting instead of interupting them.


Second, I wanna be more caring in general. To my grandparents, my friends, and my family. Sometimes people just need someone to hear them out like a simple "You good?" or just chilling and talking with them can make a huge difference for someone who's feeling alone. Maybe they need your time and attention more than anything.


Third, I'm gonna work on being braver. Next time I'm asked to lead a prayer in class, I'm just gonna do it. No more being shy about it. If my teacher needs someone for the morning prayer, my hand is going up.


Besides that, I just wanna be a better version of myself. Maybe to invite my friends to also doing good stuff with me. I also wanna actually read the Bible more and learn about what Jesus and Mother Mary really stood for so I can make it as my minimum in my live. Basically, the whole day already Made me feel like i'm leveling up. I know I’ve still got a lot of flaws, but I’m gonna try to fix them, one step at a time.





Senin, 24 November 2025

See, Judge, and Act





 PENGALAMAN SINGKAT TAPI BERKESAN DI PANTI WREDA


1. BAGIAN "SEE" (MELIHAT)


Hari itu aku bangun pagi banget, rasanya campur aduk pas lagi siap-siap buat pergi ke panti wreda. Aku mikir, apa ya yang bakal aku lakuin di sana? Aku takut kalau aku ga bisa bikin Oma-oma seneng. Tapi pas berangkat dan nyampe di lokasi, hati aku langsung agak tenang karena bertemu dengan teman sebaya saya. Tempatnya lumayan besar, ada pohon-pohon yang bikin suasana sejuk. Begitu sampai dan saya turun dari mobil saya, angin sepoi-sepoi langsung ngebuat aku lebih rileks.


Pas masuk ke dalam panti, aku langsung ngerasa diterima banget karena Oma-oma yang lagi duduk di teras nyambut kami pake senyum lebar. Salah satu suster disana menyambut kami, suaranya lembut gitu. Suster-suster juga ramah, mereka pake baju putih dan senyumnya hangat membuat saya dan teman-teman nyaman. Temen-temen aku langsung bikin suasana rame, ada yang bercanda, ada yang salaman sama Oma-oma. Aku ikut-ikutan, tapi masih malu-malu dikit. Hehe.


Kami ngobrol bentar sama suster disana, dia jelasin aturan di panti. Mereka menjelaskan aturan kayak jangan ribut terlalu keras, hormati Oma-oma, dan jangan lupa cuci tangan. Aku dengerin sambil mengamati agar bisa menghormati Oma yang ada disana. Setelah itu kami diarahkan ke aula yang lumayan luas. Dindingnya ada lukisan lukisan yang bagus dan kursi kursi yang sudah disediakan oleh pengurus di panti wreda. Acara dimulai dengan nyanyi lagu rohani Kristen bareng dipimpin oleh kami. Suara Oma di campur sama suara temen-temen bikin ruangan menjadi penuh semangat dan hangat. Aku ikut nyanyi, meskipun suara aku ga terlalu kedengeran karena ga berani terlalu besar suaranya.


Nah disini peran aku dimulai, Aku kebagian tugas memimpin doa pembuka. Jujur, aku lumayan nervous, aku mikir, gimana kalau aku salah ucap? Tapi aku beraniin diri, berdiri di depan, dan mulai doa. "Tuhan Yesus, kami minta berkat-Mu buat acara hari ini...", semua orang diam dengerin, dan pas selesai, ada yang bilang amin bareng rasanya lega banget.


Setelah doa, suasananya makin seru pas kami main game oper bola. Jadi, bolanya yang warnanya merah itu dioper dari tangan ke tangan sambil ada musik dari speaker. Musiknya lagu-lagu random yang telah dipilih oleh kami saat rapat persiapan. Pas musik berhenti, Oma yang pegang bola terakhir akan ditanyai dengan pertanyaan dari kartu yang sudah kami siapkan. Ada Oma yang cerita pas dia kecil main di sawah, ada yang bilang suka bernyanyi dan lain-lain. Aku liat mereka sangat ramah dan dengan senang hati menyeritakan. Game itu bikin kami deket sama Oma-oma, bahkan ada yang bernyanyi lagu Chinese.


Aku ikut main juga, pas bola sampe ke aku, aku oper cepet biar ga kena tanya (walaupun yang menyelenggarakan gaakan di tanya), Tapi Oma-oma antusias banget, mereka cerita panjang lebar. Ada yang bilang masa mudanya bahagia dengan permainan-permainan tradisional. Suasananya berasa seperti lagi saling sharing. Kami juga bagi-bagi makanan kecil, seperti kue dan buah. Tentunya Oma dengan baik hati mau menerima dan memakan makanan yang kamu berikan.


Cuma sayangnya, ada yang bikin hati aku ga enak. Pas acara lagi asik-asiknya, sekitar jam 11 siang, aku dan beberapa temen harus pamit duluan. Kami ada jadwal tanding basket mewakili sekolah. Rasanya tanggung banget ninggalin Oma-oma yang lagi ditengah acara. Aku liat oma masih berbahagia tapi akunya juga harus menuntaskan kegiatan bertanding basket. 


2. JUDGE (MENILAI)


"Behold, I am the handmaid of the Lord, let it be to me according to your word." (Luke 1:38)


Dari pengalaman yang singkat itu, aku coba nyari nilai-nilai apa yang diajarin oleh Bunda Maria dan aku dapatkan pada saat ke panti Wreda. Dan saya mendapat pelajaran untuk menjadi rendah hati dan taat kepada Allah seperti ayat diatas. Ayat itu mengingatkan aku kalau kita harus nerima kehendak Tuhan apa adanya.


Pertama, waktu aku maju buat pimpin doa, aku belajar melayani dengan tulus. Bukan buat pamer kalau aku anak suci atau jago doa, tapi beneran mau serahin acara ke Tuhan. Aku sadar kalau melayani ga harus hal besar-besar, sekedar memimpin doa dengan hati tulus juga udah bentuk pelayanan yang bagus. Itu kunci buat jadi rendah hati kayak Bunda Maria, yang selalu siap melayani tanpa banyak omong.


Kedua, awalnya aku merasa bersalah banget karena harus ninggalin panti di tengah acara buat basket. Aku mikir, gimana ya kalo aku tinggalin panti di tengah acara? Tapi lama-lama aku pikir, mungkin itu kehendak Tuhan buat aku hari itu untuk melayani Oma-oma sebentar dan mendapatkan pengalaman, terus lanjutin tanggung jawab aku sebagai pemain di lapangan basket. Aku ngerasa Tuhan mau memberikan pembelajaran untukku bahwa dalam waktu sempit ada banyak yang bisa dipelajari jika digunakan secara efektif. Oma-oma di panti ga marah saat aku dan teman-teman harus pergi bertanding basket, aku jadi makin sadar, kualitas lebih penting daripada lama waktunya. Seperti Bunda Maria yang mempercayai Tuhan secara penuh.


Aku juga ingin berefleksi diri, di panti itu aku liat Oma-oma yang mungkin kesepian, tapi senyum mereka pas kami datang itu tulus. Mungkin Tuhan ingin mengajariku untuk lebih peduli dengan orang sekitar. Pengalaman ini memiliki makna, kalau hidup itu penuh pilihan, dan kita harus bijak milih mana yang prioritas. Aku belajar kalau ga semua bisa sempurna, yang penting adalah mencoba sebisa mungkin tanpa menyerah.


3. BAGIAN "ACT" (BERTINDAK)


Setelah kegiatan ini, aku akan menjalankan misi mengubah sikap aku ke depannya. Aku ga mau pengalaman ini cuma lewat dan terlewatkan kesempatannya.


Pertama, aku mau lebih hargai waktu. Karena aku sadar betul kemarin waktu yang didapat mepet, tapi ku sadar kalau tiap detik dilakukan secara efektif itu pasti berharga. Aku janji buat fully present dan fokus menjadi diri yang lebih baik, lebih sering membantu sesama meskipun waktunya ga banyak. Misalnya sesimpel mendengarkan dengan baik masalah teman yang sedang bercerita, lalu memberi pendapatku.


Kedua, aku pengen ingin menjadi orang yang lebih perhatian ke orang-orang. Seperti kakek nenek, teman, saudara, dan lainnya. Aku mau dengerin cerita mereka, dan memberikan uluran tanganku untuk mereka. Mungkin sekedar nanya "Kamu lagi kenapa?" Akan berharga bagi yang memang sedang memendam keluh kesah. Atau membantu mereka dengan mengobrol dengan mereka akan menghilangkan rasa kesepian mereka. Mereka butuh perhatian, ga cuma uang atau makanan.


Ketiga, soal keberanian. Aku memiliki rencana buat bertindak lebih berani memimpin doa di kelas atau acara-acara lain. Aku ga mau malu-malu lagi kalau diminta melayani temen-temen. Misalnya, di sekolah pas ada doa pagi, aku akan dengan senang hati buat pimpin. 


Selain itu, aku mau coba menjadi lebih baik lagi kedepannya. Mungkin mengajak temen-temen lain untuk berkembang sama-sama. Aku juga pengen belajar lebih banyak ajaran Tuhan Yesus dan Bunda Maria, baca Alkitab lebih sering, agar bisa menerapkan ajaran-ajaran Tuhan. Pokoknya, pengalaman ini bikin aku pengen jadi orang yang lebih baik, meskipun masih banyak kekurangan, Aku harap bisa lakuin semua ini pelan-pelan tapi pasti

Debate

Today and Yesterday.

 Something About my  Today and Yesterday In 2025, I have already achieved something academically and non-academically. I managed to increase...